Seram

Image

Mereka bilang, kami yang seram? Plis deh. Manusia jauh lebih nakutin.

Mereka nggak ada sopannya; masuk rumah orang tanpa permisi, ngomong teriak-teriak, setel musik keras-keras, bawa makanan terus nyampah sembarangan, bawa benda bukan makanan yang bikin mereka mabuk, berusaha bikin anak di sudut-sudut gelap…

Tapi, tenang saja, Tuan Putri, sudah kuusir mereka semua. Bocah-bocah itu lari tunggang-langgang sambil menjerit-jerit, ‘monsteeeeeeeer, ‘hantuuuu’, ‘mamaaaaaa’.

Sekarang, mari kita kembali menikmati heningnya malam. Yah, sambil menunggu bocah kurang ajar lainnya. Lucu juga melihat mereka ketakutan begitu…

ditulis untuk challenge by NulisBuku.com
Saturday, February 1, 2014

Advertisements

Waiting

Image

Mana dia? Katanya mau jemput jam 6. Memang, sih, sekarang baru jam 5.30. Tapi, aku udah siap, nih.

Baju paling oke: check. Sepatu baru: check. Tas trendi: check. Make-up imut ala artis K-Pop: check. Uang: check (eh, tapi, nanti dia yang bayarin, ‘kan?) Oke. Tenang. Ng… Nonton TV bentar, deh, biar nggak berasa nunggunya.

15 menit lagi. Mau kirim WA, tanya dia sudah sampai mana… Tapi, ‘kan, dia nyetir. Berbahaya, ah.
Duh, kok tiba-tiba jadi keringetan, sih? AC-nya masih nyala, kok.
5 menit lagi… Ih, kok jadi kayak lagu dangdut itu? Hihihi…

Lho, sudah jam 6! Kok belum ada kabar juga, sih? Coba di-WA, deh, siapa tahu dia kejebak macet.
6.15. Kena macet di mana dia? Apa ada jalan yang banjir? Memangnya tadi hujan?

Jam 7. Keterlaluan, deh. Orang sudah dandan cantik begini, juga. Bilang saja dari awal kalau memang nggak mau ketemu. Percuma, deh, aku nunggu…

“Lydia, ngapain ngintip dari jendela terus? Yuk, pasien lain sudah ada di ruang makan. Wah, kamu kebanyakan nonton sinetron lagi, ya? Tunanganmu nggak akan datang, Lydia. Kamu ingat, ‘kan, dia kecelakaan waktu mau ke rumahmu 2 bulan lalu?” Seorang perawat memegang pundakku dan menggiringku menjauh dari jendela. “Hmm, harus lapor ke dokternya, nih.”

 

ditulis untuk challenge by NulisBuku.com
Friday, January 24, 2014

Bangku Taman

Image

Di bangku itulah tempat mereka bertemu untuk terakhir kalinya 4 tahun lalu. Tempat terakhir dia menyakiti hatinya, membeberkan ketidaksetiaannya, kebohongannya, dan keegoisannya. Tempat terakhir dia melontarkan pembenaran atas tindakannya tersebut. Tempat terakhir dia menyatakan untuk meninggalkannya.

Pertemuan hari ini sungguh tak disengaja. Atau diduga. Rupanya mereka telah kehabisan kata setelah bertukar sapa selama beberapa menit. Kemudian, suamiku menoleh ke belakang, menunjukku. Dari gerak bibirnya, aku tahu apa yang dikatakannya, “Itu istri dan anakku.”

ditulis untuk challenge by NulisBuku.com dengan tema “Bertemu Mantan”
Monday, January 13, 2014

A Taste of Home

Image

Matthew was in the kitchen cooking dinner, clad only in a pair of shorts. Once in a while, he would mumble a string of words, matching to the song he’s listening through his iPod. So focused into what he was doing, he didn’t even realize that his wife, Keiko, had arrived home and entered the kitchen just to step right behind him. Sending all of this military training into the grave crying, he jumped.

With a loud gasp while ripping his earphones out, he turned and his eyes widened. “Whoa! Oh! Hey, there, honey! You’re early!” Remembering what he was trying to do, he quickly added. “I mean… Yay, you’re home!”

Right. Sometimes Matthew swore that his wife had grown immune nowadays towards his overly-bright smile. It wasn’t working as it used to be. Such as now.

He knew Keiko was trying to hold her laughter bursting out loud, by the look of that wide grin. “Seriously, soldier, you let me get the jump on you?”

The color red obviously climbing to his ears, Matthew could almost feel the heat. He let his eyes follow the way his hands flew to show his handy work. “Can’t you see I’m trying to concentrate here?”

“Oh, so that’s what we’re calling it now?” Giggling in that way he had always loved, Keiko took a step back and laid both hands over her small hip.

Rolling his eyes, Matthew pivoted back to the stove, grumbling. “Oh, shut up.”

He caught the sound of her slippers on the floor before he felt Keiko leaning over his shoulder. “You playing chef tonight? What’s on the menu?”

“Chicken katsu curry over hot rice and matcha,” this time Matthew answered quietly.

Once again, Keiko made a step back, though minus the hands-on-the-hip. “Huh?”

And suddenly Matthew felt like he was a teenager again. Giddy, embarrassed, and excited; it wound inside him, wrecking havoc. For the first time in a long time, Matthew was nervous in front of his wife of five years.

Pushing out a long sigh, he turned off the burner and set the utensils he’d been holding down. Slowly he turned to face the most beautiful woman in his life. “Look… I found out that you’ve been looking a bit sad lately. Couple of days ago, I even caught you staring into pictures from our days back in Okinawa with this look of… I dunno… longing? And you’ve been switching into Japanese A LOT, too. So, I just thought that… maybe you’re homesick or something.”

Keiko just looked at her much taller husband. Then, she blinked a couple of times. “And then you decided to cook?”

Matthew shrugged, acting as it was no big feat. “Went shopping to Chinatown after calling your mother for the recipe from HQ.”

At that, Keiko almost popped her pretty little eyes out of the lids. “You called my mother? In Okinawa?”

Pointing to the refrigerator using his thumb, Matthew said again, “Bought a few cans of Japanese beer, too. Your favorite brand. Asked your brother for that one.”

“Bu–… But, you said…” Keiko was still flabbergasted. “You hate Japanese food. And you HATE my favorite beer.”

Matthew reluctantly grimaced, remembering his initial comments over some of the local cuisines he had tasted while he was stationed abroad. “I think, ‘hate’ is a bit too strong for it. Just can’t get my taste buds to get use to it, I guess.”

His raven-haired wife took another glance into the sauce pan over the stove as she tried holding back tears. “Smells good.”

“Well, it may not taste as good as your mother’s. Or any of those you’ve tasted back home.” Matthew warned, then continued in a much lower tone. “But, I do hope this’ll help a bit. You know… To cure your homesickness.”

“I don’t care if it tastes like cardboard. I mean… You cook! Matthew-san, you never cook!” Here, her voice was obviously cracking. “Moreover, you’re cooking Japanese food! All this…” She swallowed another sob. “For me.”

Batting long eyelashes as he smiled shyly, Matthew finally gave out his final confession. “That means, you’re gonna forgive me if I told you I forgot to put your mother’s special ingredient in it?”

Instead of the usual bear hug that she’d developed during her years in States, this time she move back a couple more step, crying all the way, before bowing deeply to Matthew. “Honto ni arigato gozaimashita, anata.”

*Japanese translation: “Thank you very much, my husband”
**Originally written for a writing workshop

Aku Bukan, Tapi……………

Bukan, bukan, aku bukan…. Itu, lho…… Hiki… hiki… Ya itulah, yang lagi banyak terjadi di Jepang itu.

Bukan, aku bukan itu kok! Suer!

Ibuku saja yang lebhay, bilang aku nggak pernah keluar rumah.

Bu, aku masih ke minimarket kok. Kadang ke toko buku. Saat pelembab dan kopiku habis, aku bahkan pinjam motor untuk pergi ke hipermarket.

Bapakku lebih lebhay lagi, bilang aku nggak punya teman.

Pak, teman dan sahabatku di dunia maya tak terhitung jumlahnya. Yang baik maupun yang jahat.

Andai mereka tahu…

Sudah berapa banyak akun sosmed yang kubuka dan kututup. Alasanku keluar dari pekerjaanku. Mengapa aku menerima job yang bisa kukerjakan di balik dinding kamarku, satu-satunya tempat yang kini kuanggap benar-benar aman.

Mereka membuatku takut, Bu. Benar-benar takut. Ya, sesuatu yang buruk telah terjadi pada diriku, sesuatu yang mengguncangku begitu rupa.

Tidak, Bapak dan Ibu nggak perlu tahu detailnya. Karena aku sudah mencari bantuan berbagai rupa tanpa hasil.

Kurasa, ini jalan yang lebih baik. Daripada aku memilih jalan yang ‘satu lagi’.

*cerpen perdana di Thumbstories yg ditulis demi dapet tas & tumbler* LOL

Lagu Itu

Ah, lagi-lagi lagu itu. Kenapa orang-orang suka banget sih sama lagu itu? Di mol, di radio, di TV, di dalam angkot, di mana-mana bisa kudengar lagu itu.

Padahal, menurutku nggak ada istimewanya. Iramanya biasa, musiknya biasa, tampang penyanyinya pun biasa. Apalagi liriknya. Biasa banget!

Tapi, ya gitu deh. Karena sekelilingku lagi gandrung, lagu itu bergaung di mana-mana.

Termasuk dalam kepalaku. Aaaaaaargh…

Aku nggak benci lagu itu juga sih, tapi… Lagu itu bikin aku teringat sesuatu yang menyebalkan, melelahkan, dan menghabiskan waktuku yang berharga.

Masalahnya, si sesuatu itu HARUS kulakukan sendiri, nggak bisa diserahkan ke orang lain. No, nggak AKAN kuserahkan ke tangan orang lain.

Cih, lagu terkutuk, radio kesayangan tetangga kamar kos setel lagu itu pula.

Tuh kan, jadi teringat sama ‘itu’. Dan harus kulakukan sekarang juga.

Dengan berat hati pun aku beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Untuk beberapa saat aku terpekur di ambang pintu memandangi ‘itu’.

Cucian, oh, cucian… Kok banyak betul sih??

*edisi usil sambil nunggu mesin cuci*

Layunya Sekuntum Padma

“Aku suka kamu,” ujar Padma tanpa tedeng aling-aling. Sejenak ia diam, mempelajari dan menantikan apa yang akan dikatakan atau dilakukan Yudi.

Pemuda itu terkesiap. Kemudian, ia tersenyum penuh penyesalan. Diambilnya tangan Padma dan digenggamnya erat. “Terima kasih, Padma. Tapi, maaf, aku nggak bisa terima perasaan kamu.”

Acuh tak acuh Padma angkat bahu. “Aku tahu, kok. Aku cuma pengen kamu tahu saja, biar aku nggak penasaran. Aku tahu kamu suka sama Krista.”

Sungguh Yudi tidak menyangka Padma akan seterbuka itu. “Padma…”

“Hei, aku suka sama kamu, itu urusanku. Kamu suka sama Krista, itu urusanmu. Nggak nyambung, ‘kan? Sudahlah, santai saja,” kata Padma tertawa.

“Benar? Kamu nggak apa-apa?” Yudi memicingkan mata, mencari kebenaran pada mata sahabatnya.

Senyum Padma malah kian lebar. “Nggak apa-apa! I’m FINE! Oke?”

Lega bercampur sedih, Yudi mempererat genggamannya. “Oke.”

“Kita masih teman, ‘kan?” Padma mengerling seperti biasa.

Mantap Yudi mengangguk. “Pasti. Kamu sahabatku yang paling baik, Padma. Nggak mungkin aku buang kamu begitu saja.”

“Oke.” Padma mengacungkan jempolnya. Dari ujung matanya, ia menangkap sosok Krista. “Tuh, pujaan hatimu. Good luck sama Krista, ya! Kalau sukses, kasih tahu dan jangan lupa traktirannya!”

“Beres, bos!” Yudi sekali lagi mengangguk lalu berlari mengejar gadis yang diimpikannya.

Walau sudah mengetahui semuanya, tetap saja hati Padma terasa hancur lebur jadi debu.

Hari sudah malam, ia menghempaskan diri ke balik kemudi mobilnya untuk pulang dari kampus. Demi mengejar waktu agar tidak tiba di rumah terlampau larut, dikebutnya mobilnya.

Jalanan sudah cukup sepi. Di saluran radio kesayangannya, mengalun single kedua Dewa dari album teranyarnya, ‘Pupus’.

“Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kaubuat remuk s’luruh hatiku…”

Mendengar lagu tersebut, tanpa disadari airmata mengalir turun di pipi Padma, mengaburkan pandangannya menjelang sebuah persimpangan. Lampunya masih hijau. Tepat saat Padma bergerak untuk menghapus air matanya, sebuah bis dari arah samping melanggar lampu merah dalam kecepatan tinggi.

Tanpa ampun bis tersebut menghantam bagian kanan mobil Padma keras, menimbulkan suara dahsyat. Bisa didengar jelas oleh Padma bagaimana mobilnya meremukkan sekujur tulang-tulang tubuhnya, lalu disusul keheningan yang mencekam.

Terjepit antara jok dan kemudi, Padma merasakan darahnya sendiri membasahi seluruh wajahnya yang hancur berbaur dengan air mata yang tak sempat dihapusnya.

Dalam kesadaran dan napas terakhirnya, sayup-sayup Padma dapat mendengar Once berdendang dengan suara yang kini terputus-putus.

“Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kaubuat remuk s’luruh hatiku…”

(Buat semua orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan)

gawd, i wrote this, like, a loooooooong time ago
didn’t remember exactly when
posted it somewhere i don’t recall either…….

Harusnya Kupilih Kau

Mika terperanjat. Wajah letih-lesu di hadapannya dulu amat dia kenal. Enerjik, selalu tersenyum, senantiasa tertawa. Betapa waktu yang singkat mengubahnya menjadi laki-laki yang seolah menanggung beban seluruh dunia seperti ini.

“Hei, Bimo,” sapa Mika. “Lama nggak ketemu. Apa kabar?”

“Capek,” jawab Bimo. Lelah, tua, tak bersemangat. Ya ampun, apa yang telah dilakukan Dewi padanya?

“Oh. Gimana kabar Dewi?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Mika tanpa terbendung.

Kali ini, Bimo tertawa. Tapi, tidak seperti yang diketahui Mika dulu. Tawanya kosong, pahit, dan getir. “Baik. Ibu yang baik, istri setia, wanita karir yang cemerlang.”

Ini bukan Bimo. Nada sinis begitu tak pernah didengar Mika keluar dari mulutnya. “Oh, ya? Bagus, dong.”

“Paling nggak, itu yang dunia tahu,” lanjut Bimo seraya menarik lepas dasinya yang lusuh. Matanya yang dulu bersinar tajam sesaat kembali ketika ia balik bertanya, “Kau sendiri?”

Sekilas Mika menoleh ke arah area bermain di sebelah kedai kopi tempatnya duduk, di mana suami dan anaknya berada. “Baik.”

“Harusnya kupilih kau dari Dewi,” mendadak Bimo mencetus.

Kenangan manis dan perpisahan menyakitkan dengan Bimo melintas di kepala Mika. Betapa hancur dirinya, rasa sepi yang menghantui dirinya yang yatim-piatu, depresi yang berhasil dilaluinya. Yang membuat Mika menjadi orang yang lebih baik dan lebih tangguh. Yang mempertemukannya dengan cintanya saat ini.

“Maaf, Bimo, tapi kau salah.” Mika kini hanya bisa bersimpati. “Setelah kau pergi, aku sadar kalau aku lebih baik tanpamu.”

*ditulis dalam rangka ikut2an #FFdadakan di twitter @nulisbuku. tema dari lagu “Harusnya Kau Pilih Aku” by Terry*